Kategori

Film (1) Kids (1) Opini (1) Parenting (1) Puisiku (6) Random (1) Referensi (4) Sastra (1) Sex Education (1)

Minggu, 04 Desember 2011

Wanita Tua di Senja Losari


Tetesan rintik air hujan mengalir pelan dikaca jendela kamarku, senja sore yang menampakkan mega merahnya, aku terpaku sendiri disudut kamarku, hujan hari ini tampak membuat suasana semakin sepi bahkan suram menurutku, kumenghela nafas panjang terasa letih bergelayut manja ditubuhku, kumerebahkan diri menerawang kosong kelangit-langit kamarku, aku yakin sekarang mimpi itu hanya tinggl mimpi. Disini dimata ini masih terekam semua peristiwa itu, apakah harus kukenang kembali kisah itu, setiap detik peristiwa itu hanya membuatku merasakan pedih yang teramat sangat membuatku tenggelam dalam lautan emosi.
          Kumemejamkan mataku mencoba mengusir beban yang membuatku selalu gundah, dingin yang menyergap tubuh ku tak kuhiraukan, petir yang tiba-tiba menyambarpun kutak peduli lagi.  Pikiranku hanyut terbawa gelisah yang senantiasa menemaniku..
          Hiruk pikuk suasana dikota Makassar sangat terasa sore ini, ketika aku dengan santainya menikmati semilir angin dipantai Losari apalagi ditemani sang kekasih hati yang siap mempersuntingku dalam waktu dekat, Faiz. semilir anginpun menebarkan baunya yang basah, aku tak sendiri disekitarku warga lain sibuk dengan aktivitasnya masing-masing, ahh sungguh bahagia rasanya berada disini menikmati indahnya pantai bersama seorang pria yang baik budinya, dan rupawan wajahnya, sungguh bangga aku bisa menjadi miliknya. Aku baru saja akan bersandar dibahu tunanganku ketika seorang wanita tua menghampiriku menyodorkan sebuah kaleng kecil Ia berpakain kotor dan compang-camping.
          “minta sedekahnya bu,”ujar wanita itu pelan
          Tunanganku lalu merogoh sakunya untuk mengambil dompetnya, kupandangi wanita tua itu dengan seksama, seketika itu persaanku campur aduk ada amarah membuncah, rasa iba pun mengirinya, kaget, senang dan sedihpun juga bercampur menjadi satu. Wanita tua itu juga memandangiku lekat. Tak lama tunanganku menyodorkan uang selembar uang dua ribu rupiah sambil tersenyum tapi wanita tua itu berdiri terapaku.
          “anakku,” ujarnya pelan
          Faiz tampak bingung dengan wanita ini dan juga terhadapku yang juga mematung.
          “Tiara,” ujar Faiz sambil menggerak-gerakkan tangannya didepan wajahku dan itu berhasil membuatku kembali mengusai situasi setelah dari tadi terdiam
          “Ya aku mengenalimu,” itu kalimat yang pertama kali keluar dari bibirku
          “Anakku Tiara Larasati,”ujar wanita itu tampak tak percaya. Faiz juga tampak semakin kebingungan. Aku juga masih terpaku ditempatku, tangan wanita itu coba meraihku tapi kutepis sebelum sempat menyentuhku
          “Anda tidak pantas menyentuhku lagi, kau memang ibuku tapi aku membencimu,”ujarku dengan nada tinggi, dan tampaknya perkataanku barusan membuat Faiz tanggap dan wanita tua itu tampak sedih.
          “Sayang, ini ibumu yang kamu ceritakan selama ini,” Faiz juga tampak kaget
          “ Maafkan ibu nak, ibu menyesal telah menyakitimu”
          “Maaf, Anda bilang ? Kemana Anda selama ini ? apakah Anda patut disebut seorang ibu, wanita yang tega meninggalkan anak dan suaminya demi laki-laki lain yang lebih kaya, wanita yang selalu tega menampar anak-anaknya, wanita yang selalu berkata tidak bangga terhadap anak-anaknya, wanita yang saat ayah meninggalpun dengan penuh kemenangan merampas harta dari ibu tiriku, aku dan adikku? Bahkan ibu tiriku pun lebih baik daripada Anda, dia yang merawat dan membesarkan aku dan Dimas dengan kasih sayang tulus, bahkan dia pun selalu gelisah menantiku saat aku terlambat pulang sekolah, apa itu semua pernah Anda lakukan sebagai seorang ibu?” nadaku semakin meninggi tak terasa bulir airmata membasahi pipiku, Faiz yang berada disampingku berusaha menenangkanku.
          “Ibu akui ibu salah maafkan ibu,”ujarnya menitikkan air mata
          “Anda tahu mengapa kondisi Anda seperti ini itu akibat dari perbuatan Anda sendiri? Kenapa ? laki-laki itu membuangmu?” ujarku marah
          “Sayang, kamu tidak pantas berkata seperti itu terhadap beliau, biar bagaimanapun dia tetap ibumu yang melahirkanmu”
          “Seorang ibu tidak akan tega melakukan itu kepada anak-anaknya Faiz,” aku membela diri
          “Sudahlah nak, Tiara memang wajar bersikap seperti itu ke ibu,”ujar wanita itu pasrah
          “Tiara, minta maaf ke ibumu,”ujar Faiz, aku diam.
          “Nak, kamu siapa?”Tanya wanita tua itu ke Faiz
          “Aku Faiz bu, tunangan Tiara,”ujar Faiz tersenyum
          “Jaga Tiara baik-baik nak, jangan sia-siakan dia seperti yang kulakukan dulu, penyesalan itu akan sangat menyakitkan,” wanita itu berlalu.
          “Tiara kamu tak seharusnya bersikap seperti itu sayang,”ujar Faiz, tampak kekecawaan tersirat diwajahnya.
Aku tetap diam.

Aku menghela nafas panjang, kusadari sekarang aku memang tak sepatutnya melakukan itu terhadap ibuku tempo hari. Aku akui aku marah tapi ada rindu tersimpan dijiwaku, bagaimana harus kuungkapkan perasaan ini, aku tak ingin larut dalam problema ini, dua bulan lagi aku menikah dengan Faiz tapi sampai detik ini belum kupinta restu ibuku, aku semakin gelisah. Jarum jam menunjukkan pukul setengah enam sore, diluar masih hujan langit pun terlihat sangat mendung tapi tak semendung hatiku saat ini, aku tahu penyesalan itu sangat menyakitkankan dan aku tak mau merasakannya, aku tahu apa yang harus kulakukan untuk menghentikan kegalauanku dan kuputuskan akan kuakhiri. Aku mengambil jaketku yang tergantung dibelakang pintu, bergegas pergi setelah menghubungi Faiz terlebih dahulu.

Aku dan Faiz mencari disepanjang trotoar, bertanya dengan penuh harap setiap orang yang berada dijalan itu, aku memutuskan mencari ibuku biar bagaimanapun dia yang mengandung dan melahirkan aku dan adikku dari rahimnya, aku terus mencari wanita tua itu sampai aku terhenti dianjungan pantai aku melihat seorang wanita tua yang kuyakini dia ibuku berdiri sendiri menatap kosong kearah pantai.
“Ibu aku anakmu,” ujarku lirih ketika berdiri tepat dibelakangnya.
Wanita tua itu berbalik menatapku tak percaya. Tanpa basa-basi lagi kupeluk beliau, air mataku dan air matanya bercampur satu bersama rintik hujan disore itu.
“Anakku Tiara, maafkan ibu” beliau memelukku erat
“Maafkan aku juga bu, aku sudah berlaku kurang ajar waktu itu,”aku sesengukkan, aku menatap Faiz dia tersenyum menatapku, sungguh baik sekali dia. Aku akui aku marah terhadap ibuku tapi dibalik itu semua aku mencintainya, aku sadar ibuku adalah jalanku menuju surga, tak berapa lama setelah kejadian haru itu kuajak ibuku kerumah untuk menemui adikku, Dimas yanga ku tahu dia juga sangat meridukan kehadiran wanita yang telah melahirkannya toh sejahat-jahatnya dia waktu itu dia tidak pernah mengatakan dia menyesalkan melahirkanku dan adikku, aku mencintaimu ibu..

         



By : Putri Vidy         
         

2 komentar: