Pendidikan
sepanjang hayat (PSH) atau pendidikan seumur hidup yang secara operasional
sering pula disebut pendidikan sepanjang raga (long life education) bukanlah
sesuatu yang baru. Pada abad 14 yang lampau, tepatnya pada zaman Nabi Muhammad
Saw ide dan konsep itu telah disiarkannya dalam bentuk suatu imbauan, dalam
haditsnya:
اُطْلُبُوُا
العِلْمَ مِنَ المَهْدِ اِلىَ اللََّحْدِ
artinya
:”Tuntutlah ilmu oleh kalian mulai sejak di buaian hingga liang lahat”.
Dalam
kenyataan kehidupan sehari-hari dari dahulu sudah dapat dilihat bahwa pada
hakikatnya orang belajar sepanjang hidup, meskipun dengan cara yang berbeda dan
melalui proses yang tidak sama.
Manusia sejatinya ingin terus mengaktualisasikan
dirinya, hal ini dilakukan dengan cara terus belajar, pengetahuan yang
diperoleh melalui proses belajar akan terus mengeksistensikan kemampuan yang
ada dalam dirinya. Ilmu pengetahuan memang tak akan lekang oleh
perubahan-perubahan yang seringkali timbul. Melalui proses belajar yang terus
menerus manusia tentunya dapat mengeksplor apa yang ada pada dirinya dan
lingkungan sekitarnya.
Pendidikan sepanjang hayat tidak hanya
sebatas pada pendidikan formal untuk mencapai nilai-nilai akademik tetapi secara
luas pendidikan itu dapat diperoleh dengan berbagai cara bukan sekedar pandai
tetapi menjadikan manusia cerdas.
Kemampuan untuk terus mencari dan
mengeksplor ini merupakan suatu proses yang diharapkan akan menjadi suatu dasar
untuk menghadapi perubahan-perubahan yang terjadi baik dalam skala kecil maupun
besar (global).
Manusia
dikaruniai akal dan nafsu, karena itulah manusia membutuhkan pendidikan untuk
mengarahkan potensi akalnya dan mampu mengendalikan nafsunya dengan ilmu yang
didapatnya.
Pendidikan
adalah rangkaian proses yang tak berpangkal
ujung, kecuali manusia itu sudah mati. Manusia bisa terus berada dalam proses
pendidikan sepanjang ia hidup, entah dengan mendidik dirinya atau mendidik
generasi penerusnya. Tak peduli ia sekolah ataupun tidak, setiap orang sesungguhnya seorang edukator jika ia menyadarinya dan mau mengemban tanggung jawab itu.
ujung, kecuali manusia itu sudah mati. Manusia bisa terus berada dalam proses
pendidikan sepanjang ia hidup, entah dengan mendidik dirinya atau mendidik
generasi penerusnya. Tak peduli ia sekolah ataupun tidak, setiap orang sesungguhnya seorang edukator jika ia menyadarinya dan mau mengemban tanggung jawab itu.
Pada
awalnya sistem pendidikan bersifat elitis, yaitu hanya bertujuan untuk
mengembangkan kemampuan inteletual saja yang terlepas dari kehidupan
manyarakat. Sistem pendidikan dibangun secara hirarkis, berjenjang dimana
setiap jenjangnya berfungsi sebagai filter untuk menempuh pendidikan yang lebih
atas. Kesempatan pendidikan hanya dimiliki oleh kalangan elit, sementara itu
kelompok masyarakat lapisan bawah kesempatan sangat terbatas. Seiring dengan
tuntutan perkembangan ilmu dan teknologi, serta ekonomi, system pendidikan
system pendidikan tersebut dipandang tidak sesuai lagi. Untuk dapat
menyelaraskan dengan perubahan dan perkembangan yang terjadi begitu pesat pada
abad 20-an, anggota masyarakat harus selalu memperbaharui pengetahuan dan
keterampilannya, maka diperlukan pendidikan yang berkelanjutan.
Melalui
keinginan untuk terus berubah berdasarkan perkembangan ataupun
perubahan-perubahan yang terjadi maka suatu konsep pendidikan sepanjang hayat
terbentuk, pendidikan yang berhak didapatkan oleh siapa saja, laki-laki,
perempuan, tua, muda, apapun status dan latar belakangnya.
1. Perubahan
Ilmu dan Teknologi Menuntut Orang untuk Menyesuaikan
Yang
mudah kita amati adalah kemajuan teknologi, yang pada dasarnya adalah penerapan
sejumlah ilmu dalam memenuhi kebutuhan hidup manusia. Kemajuan ilmu yang mendorong kemajuan teknologi telah
menyebabkan adanya banyak perubahan di segala bidang kehidupan.
Perubahan itu dapat
dipandang menguntungkan, misalnya banyak problem-problem yang mampu diatasi
dengan hadirnya teknologi baru, sehingga kehidupan manusia dapat menjadi lebih
mudah, praktis, bisa lebih murah, menyenangkan. Perubahan itu dapat jugs
dianggap tidak menguntungkan, karena, cepatnya perubahan kadang sulit diikuti
oleh mereka yang lamban, dapat menghilangkan mats pencaharian seseorang karena
kerja manusia digantikan oleh mesin.
Dalam masyarakat yang
sudah menerapkan teknologi, perubahan yang ada kadang menuntut manusia di
dalamnya untuk menyesuaikan. Dalam masyarakat industri maju, orang, akan amat
tersiksa jika terbatas pengetahuannya. Semakin maju suatu masyarakat semakin
menuntut agar warganya mempunyai pengetahuan yang memadai. Pengetahuan itu
perlu selalu ditambah, diperbaharui selaras dengan informasi, pengetahuan baru
yang ada.
Pada masyarakat yang lebih
maju, menuntut warganya belajar terus belajar tanpa henti atau dengan kata lain
belajar sepanjang hayat. Warga masyarakat akan mengalami kesulitan apabila,
sampai ketinggalan dari pengetahuan baru yang memasyarakat. Dengan kata lain,
hubungan antara sumber daya manusia yang cerdas juga akan mempengaruhi kemajuan
ilmu pengetahuan dan perkembangan teknologi, dan hal ini akan terus
berinteraksi dan saling mempengaruhi.
Seorang ahli pendidikan
yang bekerja untuk UNESCO, salah satu lembaga bagian dari Perserikatan
Bangsa-Bangsa menyatakan bahwa untuk itu warga masyarakat tidak saja harus man
belajar terus menerus, tetapi harus sekaligus gemar belajar. Hanya dengan cara
demikian orang dapat menerima kemajuan ini sebagai bagian dari cara hidup yang
baru, dan menerimanya tanpa beban dan keluhan.
Kemajuan
ilmu pengetahuan dan teknologi akan berdampak pada perubahan sosial
dimasayarakat. Perubahan-perubahan inipun bersifat positif maupun negatif. Dari sisi positif kemajuan
ini akan mempermudah dalam melaksanakan kegiatan kita sehari-hari seperti
komputer yang membantu seseorang menyelesaikan tugas-tugasnya tapi disisi lain
pun keadaan yang seperti ini akan menimbulkan pandangan praktis, dan tanpa
disadari atau tidak kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi akan mempengaruhi
gaya hidup seseorang, mencakup berbagai kebutuhan fisik dan nonfisik,
mempengaruhi interaksi seseorang dengan dunianya.
2.
PEMERATAAN PENDIDIKAN
Pemerataan
pendidikan mencakup dua aspek penting yaitu equality
dan equity.
Equality atau
persamaan mengandung arti persamaan kesempatan untuk memperoleh pendidikan,
sedangkan equity
bermakna keadilan dalam memperoleh kesempatan pendidikan yang sama diantara
berbagai kelompok dalam masyarakat. Akses terhadap pendidikan yang merata
berarti semua penduduk usia sekolah telah memperoleh kesempatan pendidikan,
sementara itu akses terhadap pendidikan telah adil jika antar kelompok bisa
menikmati pendidikan secara sama. Pendidikan dalam kasus ini
adalah pemerataan pendidikan aspek equity.
Pada
era globalisasi peluang untuk memiliki pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan
berkelanjutan dari suatu negara akan semakin besar jika didukung oleh SDM yang
memiliki: (1) pengetahuan dan kemampuan dasar untuk menyesuaikan diri dengan
tuntutan dan dinamika pembangunan yang tengah berlangsung; (2) jenjang
pendidikan yang semakin tinggi; (3) keterampilan keahlian yang berlatarbelakang
ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek); dan (4) kemampuan untuk menghasilkan
produk-produk yang, baik dari kualitas maupun harga, mampu bersaing dengan
produk-produk lainnya di pasar global. Menurut McRay (1994), fenomena kemajuan
ekonomi bangsa-bangsa di Asia Timur pada dasarnya merujuk pada faktor-faktor:
(1) keluwesan untuk melakukan diversifikasi produk sesuai dengan tuntutan
pasar; (2) kemampuan penguasaan teknologi cepat melalui reverse engineering
(contoh: computer clone); (3) besarnya tabungan masyarakat; (4) mutu pendidikan
yang baik; dan (5) etos kerja. Diantara faktor-faktor tersebut, pendidikan
(faktor 4) adalah merupakan simpul
atau
katalisator yang menyebabkan faktor-faktor 1,2,3 dan 5 terjadi.
Ilustrasi ini memberikan gambaran
tentang betapa pembangunan pendidikan sebagai upaya pengembangan sumberdaya
manusia (SDM) menjadi semakin penting dalam pembangunan suatu bangsa.
Pendidikan
merupakan jalan menuju kemajuan dan pencapaian kesejahteraan sosial dan
ekonomi. Sedangkan kegagalan membangun pendidikan akan melahirkan berbagai
problem krusial: pengangguran, kriminalitas, penyalahgunaan narkoba, dan
welfare dependency yang menjadi beban sosial politik bagi pemerintah.
Pemerataan
pendidikan di Indonesia merupakan masalah yang sangat rumit. Ketidakmerataan
pendidikan di Indonesia ini terjadi pada lapisan masyarakat miskin. Faktor yang
mempengaruhi ketidakmerataan ini disebabkan oleh faktor finansial atau
keuangan. Semakin tinggi tingkat pendidikan, semakin mahal biaya yang dikeluarkan
oleh individu. Indonesia merupakan negara berkembang yang sebagian besar
masyarakatnya hidup pada taraf yang tidak berkecukupan. Masyarakat menganggap
bahwa banyak yang lebih penting daripada sekedar membuang-buang uang mereka
untuk bersekolah. Selain itu, biaya pendidikan di Indonesia yang relatif mahal
jika dibandingkan negara lain meskipun biaya di beberapa tingkat pendidikan
telah dibebaskan.
Terlihat
bahwa faktor biaya menjadikan pendidikan masyarakat miskin menjadi lebih rendah
dibandingkan masyarakat kota. Akses tempat tinggal pun dapat menjadi faktor
rendahnya pendidikan masyarakat miskin. Masyarakat miskin yang biasanya
bertempat tinggal di desa-desa memiliki akses jalan yang sulit dijangkau.
Sehingga pendidikan yang masuk ke dalam masyarakt miskinpun menjadi
minim, padahal desa dapat membantu perekonomian menjadi lebih baik. Disini
terlihat dari Sumber Daya Alam (SDA) yang melimpah namun Sumber Daya Manusia
(SDM) yang kurang memiliki pendidikan, sehingga SDA yang melimpah kurang dimanfaatkan
sebaik mungkin. Tidak hanya ditekankan pendidikan formal saja untuk dapat
mengelola SDA, bisa saja pelatihan-pelatihan yang diselenggarakan pemerintah
untuk warga miskin agar dapat memanfaatkan SDA sebaik mungkin sehingga dapat
memajukan dan membangun perekonomian.
Fenomena
yang ada di Indonesia cukup ironis. Banyaknya lulusan sekolah tingkat menengah
dan perguruan tinggi setiap tahunnya, ternyata tidak sebanding dengan lowongan
pekerjaan yang disediakan. Hal itu jelas menambah jumlah pengangguran di Indonesia.
Bahkan angka pengangguran mencapai 9,5% per tahun. Untuk menuju pemerataan
pendidikan yang efektif dan menyeluruh, kita perlu mengetahui beberapa
permasalahan mendasar yang dihadapi sektor pendidikan kita. Permasalahan itu
antara lain mengenai keterbatasan daya tampung, kerusakan sarana prasarana,
kurangnya tenaga pengajar, proses pembelajaran yang konvensional, dan
keterbatasan anggaran. Hal inipun menjadi faktor pengaruh pendidikan
masyarakat miskin menjadi rendah.
Ironisnya
biaya pendidikan semakin melambung tinggi tanpa mampu dikendalikan bahkan oleh
pemerintah sekalipun. Tentu saja hal ini semakin memupuskan harapan rakyat
miskin untuk mampu menjamah pendidikan yang layak dan berkualitas. Padahal
pendidikan adalah hak mendasar dari setiap warganegara dalam rangka memperbaiki
masa depan hidup generasi bangsa..
Dengan
seiring berjalannya waktu, mengingat bahwa pendidikan itu sangat penting karena
merupakan faktor yang menunjang kemajuan suatu negara, maka dewasa ini
pemerintah telah melakukan upaya-upaya untuk meningkatkan tingkat pendidikan
masyarakatnya, hal itu dapat dilihat sejak tahun 1984, Indonesia telah berupaya
untuk memeratakan pendidikan formal Sekolah Dasar, kemudian dilanjutkan dengan
Wajib Belajar Sembilan Tahun pada tahun 1994. Selain itu, pemerintah semakin
intensif untuk memberikan bantuan berupa beasiswa, seperti Gerakan Orang Tua
Asuh, Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Akan tetapi hal utama yang paling
penting dilakukan adalah menumbuhkan kesadaran untuk terus ingin belajar tanpa
memandang batas usia dan segala latar belakang, terus belajar baik itu secara
formal maupun non formal.
3.
Efektifitas Pendidikan
Sepanjang Hayat
Pada
dasarnya pendidikan sepanjang hayat dimulai sejak kita lahir dimulai dari
sosialisasi yang diajarkan orang tua kepada anaknya, hal ini semakin didukung
dengan pendidikan formal yang diterima disekolah. Pendidikan sepanjang hayat sangat
baik diberikan sejak dini agar muncul rasa cinta manusia terhadap pendidikan
sehingga rasa ingin tahu itu selalu muncul dan ini menyebabkan manusia akan
terus belajar dan mengeksplor apa yang ada disekitarnya. Pendidikan sepanjang
hayat juga mempunyai wadah untuk mengembangkan kemampuan seseorang yang ingin
terus belajar.
Pendidikan
sepanjang hayat berwadahkan di semua lembaga
pendidikan, sumber-sumber informasi, sesuai dengan kepentingan perseorangan
untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Oleh karena
itu, lembaga dari pendidikan sepanjang hayat adalah lembaga pendidikan yang selama ini kita kenal, yaitu
1.
Pendidikan Persekolahan
2.
Pendidikan Luar Sekolah
3.
Sumber
informasi baik berupa terbitan buku, majalah atau media massa baik cetak atau elektronik ataupun sajian dalam
Internet.
Wadah pendidikan sepanjang hayat adalah semua lembaga
pendidikan yang ada. Wadah mana yang dipakai, tergantung pada apa yang
diperlukan oleh individu. Banyaknya pendidikan luar sekolah yang di awal
Indonesia hanya merdeka hanya kursus mengetik, steno, dan memegang buku
(administrasi keuangan) kini sudah banyak sekali ragamnya dan kurus steno
semakin surut jumlahnya karma hadirnya teknologi baru.
Media belajar juga pesat perkembangannya. Secara
informal orang dapat belajar lewat televisi, radio, komputer. Orang dapat,
belajar di tempat, di gedung di mana lembaga pendidikan itu berada tetapi dapat
pula belajar jarak jauh. Inilah perluasan wadah untuk belajar yang tedadi saat
ini. Karma pendidikan sepanjang hayat berwadahkan pada lembaga-lembaga
pendidikan yang ada, pertambahan dan perluasan lembaga pendidikan juga
merupakan pertambahan dan perluasan wadah pendidikan sepanjang hayat.
setuju nih ;)
BalasHapuspendidikan emang sangat diperlukan karena bisa menjadikan manusia lebih bermanfaat
pendidikan emang sangat diperlukan setiap orang
BalasHapuspostingannya bagus mbak :)
BalasHapustapi sayang orang indonesia masih banyak yang tidak mementingkan pendidikan