Tetesan rintik air hujan mengalir pelan
dikaca jendela kamarku, senja sore yang menampakkan mega merahnya, aku terpaku
sendiri disudut kamarku, hujan hari ini tampak membuat suasana semakin sepi
bahkan suram menurutku, kumenghela nafas panjang terasa letih bergelayut manja
ditubuhku, kumerebahkan diri menerawang kosong kelangit-langit kamarku, aku
yakin sekarang mimpi itu hanya tinggl mimpi. Disini dimata ini masih terekam
semua peristiwa itu, apakah harus kukenang kembali kisah itu, setiap detik
peristiwa itu hanya membuatku merasakan pedih yang teramat sangat membuatku
tenggelam dalam lautan emosi.
Kumemejamkan mataku mencoba mengusir
beban yang membuatku selalu gundah, dingin yang menyergap tubuh ku tak
kuhiraukan, petir yang tiba-tiba menyambarpun kutak peduli lagi. Pikiranku hanyut terbawa gelisah yang
senantiasa menemaniku..
Hiruk
pikuk suasana dikota Makassar sangat terasa sore ini, ketika aku dengan
santainya menikmati semilir angin dipantai Losari apalagi ditemani sang kekasih
hati yang siap mempersuntingku dalam waktu dekat, Faiz. semilir anginpun
menebarkan baunya yang basah, aku tak sendiri disekitarku warga lain sibuk
dengan aktivitasnya masing-masing, ahh sungguh bahagia rasanya berada disini
menikmati indahnya pantai bersama seorang pria yang baik budinya, dan rupawan
wajahnya, sungguh bangga aku bisa menjadi miliknya. Aku baru saja akan
bersandar dibahu tunanganku ketika seorang wanita tua menghampiriku menyodorkan
sebuah kaleng kecil Ia berpakain kotor dan compang-camping.
“minta
sedekahnya bu,”ujar wanita itu pelan
Tunanganku
lalu merogoh sakunya untuk mengambil dompetnya, kupandangi wanita tua itu
dengan seksama, seketika itu persaanku campur aduk ada amarah membuncah, rasa
iba pun mengirinya, kaget, senang dan sedihpun juga bercampur menjadi satu.
Wanita tua itu juga memandangiku lekat. Tak lama tunanganku menyodorkan uang
selembar uang dua ribu rupiah sambil tersenyum tapi wanita tua itu berdiri
terapaku.
“anakku,”
ujarnya pelan
Faiz
tampak bingung dengan wanita ini dan juga terhadapku yang juga mematung.
“Tiara,”
ujar Faiz sambil menggerak-gerakkan tangannya didepan wajahku dan itu berhasil
membuatku kembali mengusai situasi setelah dari tadi terdiam
“Ya
aku mengenalimu,” itu kalimat yang pertama kali keluar dari bibirku
“Anakku
Tiara Larasati,”ujar wanita itu tampak tak percaya. Faiz juga tampak semakin
kebingungan. Aku juga masih terpaku ditempatku, tangan wanita itu coba meraihku
tapi kutepis sebelum sempat menyentuhku
“Anda
tidak pantas menyentuhku lagi, kau memang ibuku tapi aku membencimu,”ujarku
dengan nada tinggi, dan tampaknya perkataanku barusan membuat Faiz tanggap dan
wanita tua itu tampak sedih.
“Sayang,
ini ibumu yang kamu ceritakan selama ini,” Faiz juga tampak kaget
“
Maafkan ibu nak, ibu menyesal telah menyakitimu”
“Maaf,
Anda bilang ? Kemana Anda selama ini ? apakah Anda patut disebut seorang ibu,
wanita yang tega meninggalkan anak dan suaminya demi laki-laki lain yang lebih
kaya, wanita yang selalu tega menampar anak-anaknya, wanita yang selalu berkata
tidak bangga terhadap anak-anaknya, wanita yang saat ayah meninggalpun dengan
penuh kemenangan merampas harta dari ibu tiriku, aku dan adikku? Bahkan ibu
tiriku pun lebih baik daripada Anda, dia yang merawat dan membesarkan aku dan
Dimas dengan kasih sayang tulus, bahkan dia pun selalu gelisah menantiku saat
aku terlambat pulang sekolah, apa itu semua pernah Anda lakukan sebagai seorang
ibu?” nadaku semakin meninggi tak terasa bulir airmata membasahi pipiku, Faiz
yang berada disampingku berusaha menenangkanku.
“Ibu
akui ibu salah maafkan ibu,”ujarnya menitikkan air mata
“Anda
tahu mengapa kondisi Anda seperti ini itu akibat dari perbuatan Anda sendiri?
Kenapa ? laki-laki itu membuangmu?” ujarku marah
“Sayang,
kamu tidak pantas berkata seperti itu terhadap beliau, biar bagaimanapun dia
tetap ibumu yang melahirkanmu”
“Seorang
ibu tidak akan tega melakukan itu kepada anak-anaknya Faiz,” aku membela diri
“Sudahlah
nak, Tiara memang wajar bersikap seperti itu ke ibu,”ujar wanita itu pasrah
“Tiara,
minta maaf ke ibumu,”ujar Faiz, aku diam.
“Nak,
kamu siapa?”Tanya wanita tua itu ke Faiz
“Aku
Faiz bu, tunangan Tiara,”ujar Faiz tersenyum
“Jaga
Tiara baik-baik nak, jangan sia-siakan dia seperti yang kulakukan dulu,
penyesalan itu akan sangat menyakitkan,” wanita itu berlalu.
“Tiara
kamu tak seharusnya bersikap seperti itu sayang,”ujar Faiz, tampak kekecawaan
tersirat diwajahnya.
Aku
tetap diam.
Aku menghela nafas panjang, kusadari sekarang aku memang tak sepatutnya melakukan itu terhadap ibuku tempo hari. Aku akui aku marah tapi ada rindu tersimpan dijiwaku, bagaimana harus kuungkapkan perasaan ini, aku tak ingin larut dalam problema ini, dua bulan lagi aku menikah dengan Faiz tapi sampai detik ini belum kupinta restu ibuku, aku semakin gelisah. Jarum jam menunjukkan pukul setengah enam sore, diluar masih hujan langit pun terlihat sangat mendung tapi tak semendung hatiku saat ini, aku tahu penyesalan itu sangat menyakitkankan dan aku tak mau merasakannya, aku tahu apa yang harus kulakukan untuk menghentikan kegalauanku dan kuputuskan akan kuakhiri. Aku mengambil jaketku yang tergantung dibelakang pintu, bergegas pergi setelah menghubungi Faiz terlebih dahulu.
Aku dan Faiz mencari disepanjang trotoar, bertanya dengan penuh harap setiap orang yang berada dijalan itu, aku memutuskan mencari ibuku biar bagaimanapun dia yang mengandung dan melahirkan aku dan adikku dari rahimnya, aku terus mencari wanita tua itu sampai aku terhenti dianjungan pantai aku melihat seorang wanita tua yang kuyakini dia ibuku berdiri sendiri menatap kosong kearah pantai.
“Ibu
aku anakmu,” ujarku lirih ketika berdiri tepat dibelakangnya.
Wanita
tua itu berbalik menatapku tak percaya. Tanpa basa-basi lagi kupeluk beliau,
air mataku dan air matanya bercampur satu bersama rintik hujan disore itu.
“Anakku
Tiara, maafkan ibu” beliau memelukku erat
“Maafkan
aku juga bu, aku sudah berlaku kurang ajar waktu itu,”aku sesengukkan, aku
menatap Faiz dia tersenyum menatapku, sungguh baik sekali dia. Aku akui aku
marah terhadap ibuku tapi dibalik itu semua aku mencintainya, aku sadar ibuku
adalah jalanku menuju surga, tak berapa lama setelah kejadian haru itu kuajak
ibuku kerumah untuk menemui adikku, Dimas yanga ku tahu dia juga sangat
meridukan kehadiran wanita yang telah melahirkannya toh sejahat-jahatnya dia
waktu itu dia tidak pernah mengatakan dia menyesalkan melahirkanku dan adikku,
aku mencintaimu ibu..
By : Putri Vidy
baguuss...
BalasHapusmakasih.. :)
BalasHapus