Kategori

Film (1) Kids (1) Opini (1) Parenting (1) Puisiku (6) Random (1) Referensi (4) Sastra (1) Sex Education (1)

Minggu, 04 Desember 2011

Pendidikan Sepanjang Hayat


Pendidikan sepanjang hayat (PSH) atau pendidikan seumur hidup yang secara operasional sering pula disebut pendidikan sepanjang raga (long life education) bukanlah sesuatu yang baru. Pada abad 14 yang lampau, tepatnya pada zaman Nabi Muhammad Saw ide dan konsep itu telah disiarkannya dalam bentuk suatu imbauan, dalam haditsnya:
اُطْلُبُوُا العِلْمَ مِنَ المَهْدِ اِلىَ اللََّحْدِ
artinya :”Tuntutlah ilmu oleh kalian mulai sejak di buaian hingga liang lahat”.
Dalam kenyataan kehidupan sehari-hari dari dahulu sudah dapat dilihat bahwa pada hakikatnya orang belajar sepanjang hidup, meskipun dengan cara yang berbeda dan melalui proses yang tidak sama.
          Manusia sejatinya ingin terus mengaktualisasikan dirinya, hal ini dilakukan dengan cara terus belajar, pengetahuan yang diperoleh melalui proses belajar akan terus mengeksistensikan kemampuan yang ada dalam dirinya. Ilmu pengetahuan memang tak akan lekang oleh perubahan-perubahan yang seringkali timbul. Melalui proses belajar yang terus menerus manusia tentunya dapat mengeksplor apa yang ada pada dirinya dan lingkungan sekitarnya.
          Pendidikan sepanjang hayat tidak hanya sebatas pada pendidikan formal untuk mencapai nilai-nilai akademik tetapi secara luas pendidikan itu dapat diperoleh dengan berbagai cara bukan sekedar pandai tetapi menjadikan manusia cerdas.
          Kemampuan untuk terus mencari dan mengeksplor ini merupakan suatu proses yang diharapkan akan menjadi suatu dasar untuk menghadapi perubahan-perubahan yang terjadi baik dalam skala kecil maupun besar (global). 
         Manusia dikaruniai akal dan nafsu, karena itulah manusia membutuhkan pendidikan untuk mengarahkan potensi akalnya dan mampu mengendalikan nafsunya dengan ilmu yang didapatnya.
Pendidikan adalah rangkaian proses yang tak berpangkal
ujung, kecuali manusia itu sudah mati. Manusia bisa terus berada dalam proses
pendidikan sepanjang ia hidup, entah dengan mendidik dirinya atau mendidik
generasi penerusnya. Tak peduli ia sekolah ataupun tidak, setiap orang sesungguhnya seorang edukator jika ia menyadarinya dan mau mengemban tanggung jawab itu.
Pada awalnya sistem pendidikan bersifat elitis, yaitu hanya bertujuan untuk mengembangkan kemampuan inteletual saja yang terlepas dari kehidupan manyarakat. Sistem pendidikan dibangun secara hirarkis, berjenjang dimana setiap jenjangnya berfungsi sebagai filter untuk menempuh pendidikan yang lebih atas. Kesempatan pendidikan hanya dimiliki oleh kalangan elit, sementara itu kelompok masyarakat lapisan bawah kesempatan sangat terbatas. Seiring dengan tuntutan perkembangan ilmu dan teknologi, serta ekonomi, system pendidikan system pendidikan tersebut dipandang tidak sesuai lagi. Untuk dapat menyelaraskan dengan perubahan dan perkembangan yang terjadi begitu pesat pada abad 20-an, anggota masyarakat harus selalu memperbaharui pengetahuan dan keterampilannya, maka diperlukan pendidikan yang berkelanjutan.
Melalui keinginan untuk terus berubah berdasarkan perkembangan ataupun perubahan-perubahan yang terjadi maka suatu konsep pendidikan sepanjang hayat terbentuk, pendidikan yang berhak didapatkan oleh siapa saja, laki-laki, perempuan, tua, muda, apapun status dan latar belakangnya.
1.   Perubahan Ilmu dan Teknologi Menuntut Orang untuk Menyesuaikan
Yang mudah kita amati adalah kemajuan teknologi, yang pada dasarnya adalah penerapan sejumlah ilmu dalam memenuhi kebutuhan hidup manusia. Kemajuan ilmu yang mendorong kemajuan teknologi telah menyebabkan adanya banyak perubahan di segala bidang kehidupan. 
Perubahan itu dapat dipandang menguntungkan, misalnya banyak problem-problem yang mampu diatasi dengan hadirnya teknologi baru, sehingga kehidupan manusia dapat menjadi lebih mudah, praktis, bisa lebih murah, menyenangkan. Perubahan itu dapat jugs dianggap tidak menguntungkan, karena, cepatnya perubahan kadang sulit diikuti oleh mereka yang lamban, dapat menghilangkan mats pencaharian seseorang karena kerja manusia digantikan oleh mesin.
Dalam masyarakat yang sudah menerapkan teknologi, perubahan yang ada kadang menuntut manusia di dalamnya untuk menyesuaikan. Dalam masyarakat industri maju, orang, akan amat tersiksa jika terbatas pengetahuannya. Semakin maju suatu masyarakat semakin menuntut agar warganya mempunyai pengetahuan yang memadai. Pengetahuan itu perlu selalu ditambah, diperbaharui selaras dengan informasi, pengetahuan baru yang ada.
Pada masyarakat yang lebih maju, menuntut warganya belajar terus belajar tanpa henti atau dengan kata lain belajar sepanjang hayat. Warga masyarakat akan mengalami kesulitan apabila, sampai ketinggalan dari pengetahuan baru yang memasyarakat. Dengan kata lain, hubungan antara sumber daya manusia yang cerdas juga akan mempengaruhi kemajuan ilmu pengetahuan dan perkembangan teknologi, dan hal ini akan terus berinteraksi dan saling mempengaruhi.
Seorang ahli pendidikan yang bekerja untuk UNESCO, salah satu lembaga bagian dari Perserikatan Bangsa-Bangsa menyatakan bahwa untuk itu warga masyarakat tidak saja harus man belajar terus menerus, tetapi harus sekaligus gemar belajar. Hanya dengan cara demikian orang dapat menerima kemajuan ini sebagai bagian dari cara hidup yang baru, dan menerimanya tanpa beban dan keluhan.
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi akan berdampak pada perubahan sosial dimasayarakat. Perubahan-perubahan inipun bersifat positif  maupun negatif. Dari sisi positif kemajuan ini akan mempermudah dalam melaksanakan kegiatan kita sehari-hari seperti komputer yang membantu seseorang menyelesaikan tugas-tugasnya tapi disisi lain pun keadaan yang seperti ini akan menimbulkan pandangan praktis, dan tanpa disadari atau tidak kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi akan mempengaruhi gaya hidup seseorang, mencakup berbagai kebutuhan fisik dan nonfisik, mempengaruhi interaksi seseorang dengan dunianya.

2.    PEMERATAAN PENDIDIKAN
Pemerataan pendidikan mencakup dua aspek penting yaitu equality dan equity. Equality atau persamaan mengandung arti persamaan kesempatan untuk memperoleh pendidikan, sedangkan equity bermakna keadilan dalam memperoleh kesempatan pendidikan yang sama diantara berbagai kelompok dalam masyarakat. Akses terhadap pendidikan yang merata berarti semua penduduk usia sekolah telah memperoleh kesempatan pendidikan, sementara itu akses terhadap pendidikan telah adil jika antar kelompok bisa menikmati pendidikan secara sama. Pendidikan dalam kasus ini adalah pemerataan pendidikan aspek equity.
Pada era globalisasi peluang untuk memiliki pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan dari suatu negara akan semakin besar jika didukung oleh SDM yang memiliki: (1) pengetahuan dan kemampuan dasar untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan dan dinamika pembangunan yang tengah berlangsung; (2) jenjang pendidikan yang semakin tinggi; (3) keterampilan keahlian yang berlatarbelakang ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek); dan (4) kemampuan untuk menghasilkan produk-produk yang, baik dari kualitas maupun harga, mampu bersaing dengan produk-produk lainnya di pasar global. Menurut McRay (1994), fenomena kemajuan ekonomi bangsa-bangsa di Asia Timur pada dasarnya merujuk pada faktor-faktor: (1) keluwesan untuk melakukan diversifikasi produk sesuai dengan tuntutan pasar; (2) kemampuan penguasaan teknologi cepat melalui reverse engineering (contoh: computer clone); (3) besarnya tabungan masyarakat; (4) mutu pendidikan yang baik; dan (5) etos kerja. Diantara faktor-faktor tersebut, pendidikan (faktor 4) adalah merupakan simpul atau katalisator yang menyebabkan faktor-faktor 1,2,3 dan 5 terjadi. Ilustrasi ini memberikan gambaran tentang betapa pembangunan pendidikan sebagai upaya pengembangan sumberdaya manusia (SDM) menjadi semakin penting dalam pembangunan suatu bangsa.
Pendidikan merupakan jalan menuju kemajuan dan pencapaian kesejahteraan sosial dan ekonomi. Sedangkan kegagalan membangun pendidikan akan melahirkan berbagai problem krusial: pengangguran, kriminalitas, penyalahgunaan narkoba, dan welfare dependency yang menjadi beban sosial politik bagi pemerintah.
Pemerataan pendidikan di Indonesia merupakan masalah yang sangat rumit. Ketidakmerataan pendidikan di Indonesia ini terjadi pada lapisan masyarakat miskin. Faktor yang mempengaruhi ketidakmerataan ini disebabkan oleh faktor finansial atau keuangan. Semakin tinggi tingkat pendidikan, semakin mahal biaya yang dikeluarkan oleh individu. Indonesia merupakan negara berkembang yang sebagian besar masyarakatnya hidup pada taraf yang tidak berkecukupan. Masyarakat menganggap bahwa banyak yang lebih penting daripada sekedar membuang-buang uang mereka untuk bersekolah. Selain itu, biaya pendidikan di Indonesia yang relatif mahal jika dibandingkan negara lain meskipun biaya di beberapa tingkat pendidikan telah dibebaskan.
Terlihat bahwa faktor biaya menjadikan pendidikan masyarakat miskin menjadi lebih rendah dibandingkan masyarakat kota. Akses tempat tinggal pun dapat menjadi faktor rendahnya pendidikan masyarakat miskin. Masyarakat miskin yang biasanya bertempat tinggal di desa-desa memiliki akses jalan yang sulit dijangkau. Sehingga pendidikan yang masuk ke dalam masyarakt miskinpun  menjadi minim, padahal desa dapat membantu perekonomian menjadi lebih baik. Disini terlihat dari Sumber Daya Alam (SDA) yang melimpah namun Sumber Daya Manusia (SDM) yang kurang memiliki pendidikan, sehingga SDA yang melimpah kurang dimanfaatkan sebaik mungkin. Tidak hanya ditekankan pendidikan formal saja untuk dapat mengelola SDA, bisa saja pelatihan-pelatihan yang diselenggarakan pemerintah untuk warga miskin agar dapat memanfaatkan SDA sebaik mungkin sehingga dapat memajukan dan membangun perekonomian.
Fenomena yang ada di Indonesia cukup ironis. Banyaknya lulusan sekolah tingkat menengah dan perguruan tinggi setiap tahunnya, ternyata tidak sebanding dengan lowongan pekerjaan yang disediakan. Hal itu jelas menambah jumlah pengangguran di Indonesia. Bahkan angka pengangguran mencapai 9,5% per tahun. Untuk menuju pemerataan pendidikan yang efektif dan menyeluruh, kita perlu mengetahui beberapa permasalahan mendasar yang dihadapi sektor pendidikan kita. Permasalahan itu antara lain mengenai keterbatasan daya tampung, kerusakan sarana prasarana, kurangnya tenaga pengajar, proses pembelajaran yang konvensional, dan keterbatasan anggaran. Hal inipun menjadi faktor pengaruh pendidikan masyarakat miskin menjadi rendah.
Ironisnya biaya pendidikan semakin melambung tinggi tanpa mampu dikendalikan bahkan oleh pemerintah sekalipun. Tentu saja hal ini semakin memupuskan harapan rakyat miskin untuk mampu menjamah pendidikan yang layak dan berkualitas. Padahal pendidikan adalah hak mendasar dari setiap warganegara dalam rangka memperbaiki masa depan hidup generasi bangsa..
Dengan seiring berjalannya waktu, mengingat bahwa pendidikan itu sangat penting karena merupakan faktor yang menunjang kemajuan suatu negara, maka dewasa ini pemerintah telah melakukan upaya-upaya untuk meningkatkan tingkat pendidikan masyarakatnya, hal itu dapat dilihat sejak tahun 1984, Indonesia telah berupaya untuk memeratakan pendidikan formal Sekolah Dasar, kemudian dilanjutkan dengan Wajib Belajar Sembilan Tahun pada tahun 1994. Selain itu, pemerintah semakin intensif untuk memberikan bantuan berupa beasiswa, seperti Gerakan Orang Tua Asuh, Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Akan tetapi hal utama yang paling penting dilakukan adalah menumbuhkan kesadaran untuk terus ingin belajar tanpa memandang batas usia dan segala latar belakang, terus belajar baik itu secara formal maupun non formal.

3.   Efektifitas Pendidikan Sepanjang Hayat
Pada dasarnya pendidikan sepanjang hayat dimulai sejak kita lahir dimulai dari sosialisasi yang diajarkan orang tua kepada anaknya, hal ini semakin didukung dengan pendidikan formal yang diterima disekolah. Pendidikan sepanjang hayat sangat baik diberikan sejak dini agar muncul rasa cinta manusia terhadap pendidikan sehingga rasa ingin tahu itu selalu muncul dan ini menyebabkan manusia akan terus belajar dan mengeksplor apa yang ada disekitarnya. Pendidikan sepanjang hayat juga mempunyai wadah untuk mengembangkan kemampuan seseorang yang ingin terus belajar.

Pendidikan sepanjang hayat berwadahkan di semua lembaga pendidikan, sumber-sumber informasi, sesuai dengan kepentingan perseorangan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Oleh karena itu, lembaga dari pendidikan sepanjang hayat adalah lembaga pendidikan yang selama ini kita kenal, yaitu
1.    Pendidikan Persekolahan
2.    Pendidikan Luar Sekolah
3.    Sumber informasi baik berupa terbitan buku, majalah atau media massa baik cetak atau elektronik ataupun sajian dalam Internet.
Wadah pendidikan sepanjang hayat adalah semua lembaga pendidikan yang ada. Wadah mana yang dipakai, tergantung pada apa yang diperlukan oleh individu. Banyaknya pendidikan luar sekolah yang di awal Indonesia hanya merdeka hanya kursus mengetik, steno, dan memegang buku (administrasi keuangan) kini sudah banyak sekali ragamnya dan kurus steno semakin surut jumlahnya karma hadirnya teknologi baru.
Media belajar juga pesat perkembangannya. Secara informal orang dapat belajar lewat televisi, radio, komputer. Orang dapat, belajar di tempat, di gedung di mana lembaga pendidikan itu berada tetapi dapat pula belajar jarak jauh. Inilah perluasan wadah untuk belajar yang tedadi saat ini. Karma pendidikan sepanjang hayat berwadahkan pada lembaga-lembaga pendidikan yang ada, pertambahan dan perluasan lembaga pendidikan juga merupakan pertambahan dan perluasan wadah pendidikan sepanjang hayat.

3 komentar:

  1. setuju nih ;)
    pendidikan emang sangat diperlukan karena bisa menjadikan manusia lebih bermanfaat

    BalasHapus
  2. pendidikan emang sangat diperlukan setiap orang

    BalasHapus
  3. postingannya bagus mbak :)
    tapi sayang orang indonesia masih banyak yang tidak mementingkan pendidikan

    BalasHapus