Pendidikan Sekolah
Dasar sebagai pendidikan dasar adalah setelah masa pengenalan masa bermain
sambil belajar (taman kanak-kanak) merupakan suatu keharusan yang sangat vital
dan sentral. Mengapa demikian? Sebab SD tempat berkumpulnya anak-anak yang
usianya sangat rentan untuk menerima dan cenderung menyimpan apa yang mereka
sudah lihat, dengar dan pelajari. Pendidikin awal yang berasal dari keluarga
akan mereka terapkan pada jenjang pendidikan ini.
Pada realitasnya anak
usia SD memiliki kecenderungan untuk lebih segan terhadap guru-gurunya
disekolah. Nah pertanyaannya apakah guru dewasa ini dapat mentransfer ilmunya
dengan benar dan efektif? Disinilah titik sentralnya, kekurang tepatan
penanaman nilai moral dasar yang betul-betul didasari oleh kesadaran akan hak
dan tanggung jawab akan menjadi hal yang membuat proses kedepannya akan berjalan
dengan kurang benar. Bila hal itu terjadi, berulang, dan dibiarkan tanpa ada
yang tahu apa yang seharusnya dilakukan, maka akan tercipta suatu siklus yang
dapat penulis katakan sebagai siklus perusak individu yang membuat para penerus
bangsa tidak berada pada titik tertinggi sebagai seorang individu yang unggul.
Penulis
akan mulai dari hal yang pertama dan utama dalam tripusat pendidikan yang
mendasari Sistem Pendidikan Nasional.
Keluarga.Keluarga
sebagai hal yang sangat penting. Seorang anak dalam hal ini dikatakan sebagai
individu mendapatkan ilmu-ilmu dasar dari keluarga. Seperti makan menggunakan
tangan kanan, mengucapkan salam ketika masuk rumah dan sebagainya. Nah,
bagaimanakah peranan orang tua yang semestinya diajarkan kepada anak? Menurut
pandangan penulis, tidak ada orang tua yang akan mengajarkan hal yang tidak
baik kepada anak-anaknya. Tentu saja seharusnya kebaikan disini adalah kebaikan
bagi semua. Baik menurut orang tua itu sendiri, sesuai dengan aturan yang
berlaku di negara kita dan semoga baik untuk anak itu sendiri. Orang tua akan
mengajarakan hal-hal dasar yang akan kemudian anak kembangkan di sekolah dasar.
Disini penulis akan membagi dua golongan keluarga yang akan menyekolahkan
anak-anaknya ke jenjang sekolah dasar.
Pertama, Golongan keluarga yang berkecukupan dan orang
tua mempunyai pendidikan yang tinggi.
Pada Golongan ini keluarga berkecenderungan akan berusaha memasukkan anaknya
kedalam sekolah yang mempunyai prestise
tinggi, dengan kurang meimikirkan apakah si anak akan senang bersekolah
ditempat itu? Satu hal yang perlu diingat, apabila kondisi psikologi anak
kurang nyaman dengan pilihan tempat belajarnya akan menghambat proses
penyerapan ilmu. Tekanan pada golongan ini juga cenderung lebih tinggi,
misalnya apaabila anak tersebut tidak dapat diterima maka akan berusaha
melakukan tindakan kolusi atau “menitipkan”
anak-anaknya keorang-orang yang mungkin dekat dengan mereka. Digaris bawahi, INI
MERUPAKAN LANGKAH AWAL YANG TELAH TIDAK JUJUR DAN MEMILIKI KECENDERUNGAN
BERULANG KEJENJANG BERIKUTNYA. Lalu
tekanan agar si anak yang menjadi yang terbaik tanpa mempertimbangkan kemampuan
si anak tersebut
Kedua, golongan
keluarga yang taraf ekonominya lebih dibawah dan orang tua tidak memiliki
pendidikan yang terlalu tinggi. Pada golongan ini orang tua sepertinya tidak
terlalu mempermasalahkan dimana anak mereka bersekolah, kadang-kadang akan
timbul sikap masa bodoh, yang mereka tahu anak mereka tetap menuntut ilmu dan
akan mendapatkan ijazah untuk melanjutkan kejenjang berikutnya. Tapi mirisnya,
kadang-kadang sekolah pilihan mereka tidak sesuai dengan standar mutu
pendidikan. Sarana dan prasarana yang kurang akan menjadikan proses belajar
mengajar menjadi tidak efektif.
Kemudian kita akan
masuk kedalam tahapan sekolah. Dan kembali penulis akan menempatkan tokoh
sentral dalam hal ini yaitu GURU. Guru sebagai pengajar yang baik seharusnya dapat berperan bukan hanya
sebagai pendidik dalam hal kognitif tetapi juga dalam hal sikap, mental, moral
dan agama. Tapi apakah semua guru sudah memenuhi kriteria tersebut? Penulis
berani menyimpulkan bahwa hanya sebagian kecil yang memenuhi standar seperti
itu. Timbul kembali pertanyaan mengapa demikian? Bukankanh untuk seorang
menjadi guru harus melewati proses yang sangat panjang dan berat, mulai dari
sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas, perguruan
tinggi dan sebagainya? Perlu dipahami berbicara masalah pendidikan adalah
berbicara mengenai hal yang sangat kompleks dan menyangkut segala aspek
kehidupan dan akan membuat siklus berantai yang apabila sudah ada sistem yang
salah maka akan sulit menemukan kebenaran didepannya.
Orientasi masyarakat
Indonesia saat ini adalah bagaimana berlomba-lomba menjadi PNS terutama guru.
Dengan iming-iming waktu mengajar yang Cuma setengah hari, menerima tunjangan
dan dana pensiun akan membuat orang berlomba-lomba menjadi guru. Mencari guru
yang benar-benar berkualitas kita harus barbalik kenbelakang dan melihat
alurya, apakah si Guru ini semasa sd sudah tanpa tekanan ? tertempa pikiran dan
mentalnya utuk jadi pribadi yang unggul? apakah selama proses pendidikan sudah
lepas dari namanya KKN? Apakah proses selama menuntut ilmu dilakukan dengan
baik dan benar? Apakah istilah menyontek telah hilang dari kamusnya? Apakah
sewaktu masuk perguruan tinggi dan memilih jurusan untuk menjadi seorang guru
memang berdasarkan cita-citanya bukan karena keinginan orang tua atau
tekanan-tekanan lain yang melencengkan niat untuk menjadi seorang abdi bangsa
semisal mengangkat gengsi dan kehidupan yang lebih baik secara materi? Keluarga
guru? Apakah si guru ini bersih dari stilah “letjen”? si guru ini menjadi mahasiswa yang baik semasa berkuliah?
Menyusun skripsinya sendiri? Menjalani pogram sertifikasi semata-mata untuk
meningkatkan keprofesionalan bukan dengan maksud yang lain? Dan akan ada banyak
pertanyaan-pertanyaan lain yang akan timbul setelahnya.
Menurut pandangan
penulis ketika seorang telah dapat lepas dari segelintir pertanyaan-pertanyaan
diatas maka bisalah disebut sebagi guru yang baik secara akademik dan mental,
sudah pantas untuk kembali mendidik anak-anak usia sekolah dasar yang akan
menjadi penerus bangsa.
Tetapi apabila hal
tersebut bertolak belakang bisa kia bayangkan bagaimana seorang yang sudah dari
awal tidak menunjukkan guru yang baik akan mengajar anak-anak kita?
Guru mempunyai tanggung jawab yang sngat
besar dan berat terutama guru sekolah dasar untuk melahirkan generasi-generasi
yang baik. Tapi apa jadinya bila seorang guru itu tidak melewati proses yang
baik? Anak-anak sekolah dasar yang tentunya telah ikut dalam alur yang
sistemnya salah akan memilki kecenderungan melakukan hal yang sama pada
jenjang-jenjang pendidikan selanjutnya, ketingkat sekolah menengah peryama dan
sekolah menengah atas akan menambanh beban tersendiri yaitu tuntutan hasil yang
baik dari pemerintah. Hal ini penulis yakini akan menimbulkan masalah yang akan
semakin rumit, logikanya bila anak mempunyai minta dan disiplin belajar yang
kurang kesekolah hanya sebagai rutinitas, kesekolah untuk ajang bergaul dan
menonjolkan eksistensi diri dan sehari-hari hanya mampu menadaptkan nilai 6
maka bagaimana bisa hasil akhirnya bisa menjadi 9? Apakah dalam waktu 3 hari
sampai satu minggu anak-anak yang prosesnya biasa-biasa saja bisa setara dengan
anak yang sehari-hari unggul dalam proses akademik? Dan sperti penulis katakan
ini akan menjadi suatu siklus yang akan berulang, lalu bagaimana kita bisa
berharap penerus bagsa kita merupakan individu yang gemilang? Mereka dari
produk sistem yang salah hanya akan menjadi output-output yang mentalnya sudah
jatuh dan rusak. Maka marilah kita menjadi pembaharu, memutus siklus yang tidak
benar itu mejadi guru yanbg unggul, bukankah tidak ada kata terlambat? Karena
apabila sistem yang rusak itu dibiarkan penyakit-penyakit mental yang ada
dipenjuru negeri kita Indonesia akan semakin kronis dan smakin rumit. Kita bisa
menjadi guru yang baik yang berkualitas karena tentunya kita akan malu bila
menyebut negar kita sendiri adalah negara yang memelihara budaya yang
menghasilkan generasi yang tidak unggul secara pkiran dan mental. Sekali lagi
penulis katakan Guru mempunyai peran yang sangat sentral dan vital bukan hanya
sekedar pendidik tetapi juga menjadi pembaharu untuk kehidupan bangsa yang
lebih baik dimasa depan.
maka jadilah guru yang bisa mendidik penerus bangsa ;)
BalasHapusternyata menjadi guru yang benar-benar "GURU" itu susah ya
BalasHapuspendidikan sejak dini memang sangat menentukan kelak menjadi apa anak tersebut
BalasHapus