Kategori

Film (1) Kids (1) Opini (1) Parenting (1) Puisiku (6) Random (1) Referensi (4) Sastra (1) Sex Education (1)

Jumat, 16 Desember 2011

PENDIDIKAN DASAR DAN KARAKTER INDIVIDU MASA KINI SEBAGAI PENERUS BANGSA



Pendidikan Sekolah Dasar sebagai pendidikan dasar adalah setelah masa pengenalan masa bermain sambil belajar (taman kanak-kanak) merupakan suatu keharusan yang sangat vital dan sentral. Mengapa demikian? Sebab SD tempat berkumpulnya anak-anak yang usianya sangat rentan untuk menerima dan cenderung menyimpan apa yang mereka sudah lihat, dengar dan pelajari. Pendidikin awal yang berasal dari keluarga akan mereka terapkan pada jenjang pendidikan ini.

Pada realitasnya anak usia SD memiliki kecenderungan untuk lebih segan terhadap guru-gurunya disekolah. Nah pertanyaannya apakah guru dewasa ini dapat mentransfer ilmunya dengan benar dan efektif? Disinilah titik sentralnya, kekurang tepatan penanaman nilai moral dasar yang betul-betul didasari oleh kesadaran akan hak dan tanggung jawab akan menjadi hal yang membuat proses kedepannya akan berjalan dengan kurang benar. Bila hal itu terjadi, berulang, dan dibiarkan tanpa ada yang tahu apa yang seharusnya dilakukan, maka akan tercipta suatu siklus yang dapat penulis katakan sebagai siklus perusak individu yang membuat para penerus bangsa tidak berada pada titik tertinggi sebagai seorang individu yang unggul.

          Penulis akan mulai dari hal yang pertama dan utama dalam tripusat pendidikan yang mendasari Sistem Pendidikan Nasional.
Keluarga.Keluarga sebagai hal yang sangat penting. Seorang anak dalam hal ini dikatakan sebagai individu mendapatkan ilmu-ilmu dasar dari keluarga. Seperti makan menggunakan tangan kanan, mengucapkan salam ketika masuk rumah dan sebagainya. Nah, bagaimanakah peranan orang tua yang semestinya diajarkan kepada anak? Menurut pandangan penulis, tidak ada orang tua yang akan mengajarkan hal yang tidak baik kepada anak-anaknya. Tentu saja seharusnya kebaikan disini adalah kebaikan bagi semua. Baik menurut orang tua itu sendiri, sesuai dengan aturan yang berlaku di negara kita dan semoga baik untuk anak itu sendiri. Orang tua akan mengajarakan hal-hal dasar yang akan kemudian anak kembangkan di sekolah dasar. Disini penulis akan membagi dua golongan keluarga yang akan menyekolahkan anak-anaknya ke jenjang sekolah dasar.
            Pertama, Golongan keluarga yang berkecukupan dan orang tua mempunyai  pendidikan yang tinggi. Pada Golongan ini keluarga berkecenderungan akan berusaha memasukkan anaknya kedalam sekolah yang mempunyai prestise tinggi, dengan kurang meimikirkan apakah si anak akan senang bersekolah ditempat itu? Satu hal yang perlu diingat, apabila kondisi psikologi anak kurang nyaman dengan pilihan tempat belajarnya akan menghambat proses penyerapan ilmu. Tekanan pada golongan ini juga cenderung lebih tinggi, misalnya apaabila anak tersebut tidak dapat diterima maka akan berusaha melakukan tindakan kolusi atau “menitipkan” anak-anaknya keorang-orang yang mungkin dekat dengan mereka. Digaris bawahi, INI MERUPAKAN LANGKAH AWAL YANG TELAH TIDAK JUJUR DAN MEMILIKI KECENDERUNGAN BERULANG KEJENJANG BERIKUTNYA.  Lalu tekanan agar si anak yang menjadi yang terbaik tanpa mempertimbangkan kemampuan si anak tersebut

Kedua, golongan keluarga yang taraf ekonominya lebih dibawah dan orang tua tidak memiliki pendidikan yang terlalu tinggi. Pada golongan ini orang tua sepertinya tidak terlalu mempermasalahkan dimana anak mereka bersekolah, kadang-kadang akan timbul sikap masa bodoh, yang mereka tahu anak mereka tetap menuntut ilmu dan akan mendapatkan ijazah untuk melanjutkan kejenjang berikutnya. Tapi mirisnya, kadang-kadang sekolah pilihan mereka tidak sesuai dengan standar mutu pendidikan. Sarana dan prasarana yang kurang akan menjadikan proses belajar mengajar menjadi tidak efektif.

Kemudian kita akan masuk kedalam tahapan sekolah. Dan kembali penulis akan menempatkan tokoh sentral dalam hal ini yaitu GURU. Guru sebagai pengajar yang  baik seharusnya dapat berperan bukan hanya sebagai pendidik dalam hal kognitif tetapi juga dalam hal sikap, mental, moral dan agama. Tapi apakah semua guru sudah memenuhi kriteria tersebut? Penulis berani menyimpulkan bahwa hanya sebagian kecil yang memenuhi standar seperti itu. Timbul kembali pertanyaan mengapa demikian? Bukankanh untuk seorang menjadi guru harus melewati proses yang sangat panjang dan berat, mulai dari sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas, perguruan tinggi dan sebagainya? Perlu dipahami berbicara masalah pendidikan adalah berbicara mengenai hal yang sangat kompleks dan menyangkut segala aspek kehidupan dan akan membuat siklus berantai yang apabila sudah ada sistem yang salah maka akan sulit menemukan kebenaran didepannya.
Orientasi masyarakat Indonesia saat ini adalah bagaimana berlomba-lomba menjadi PNS terutama guru. Dengan iming-iming waktu mengajar yang Cuma setengah hari, menerima tunjangan dan dana pensiun akan membuat orang berlomba-lomba menjadi guru. Mencari guru yang benar-benar berkualitas kita harus barbalik kenbelakang dan melihat alurya, apakah si Guru ini semasa sd sudah tanpa tekanan ? tertempa pikiran dan mentalnya utuk jadi pribadi yang unggul? apakah selama proses pendidikan sudah lepas dari namanya KKN? Apakah proses selama menuntut ilmu dilakukan dengan baik dan benar? Apakah istilah menyontek telah hilang dari kamusnya? Apakah sewaktu masuk perguruan tinggi dan memilih jurusan untuk menjadi seorang guru memang berdasarkan cita-citanya bukan karena keinginan orang tua atau tekanan-tekanan lain yang melencengkan niat untuk menjadi seorang abdi bangsa semisal mengangkat gengsi dan kehidupan yang lebih baik secara materi? Keluarga guru? Apakah si guru ini bersih dari stilah “letjen”? si guru ini menjadi mahasiswa yang baik semasa berkuliah? Menyusun skripsinya sendiri? Menjalani pogram sertifikasi semata-mata untuk meningkatkan keprofesionalan bukan dengan maksud yang lain? Dan akan ada banyak pertanyaan-pertanyaan lain yang akan timbul setelahnya.

Menurut pandangan penulis ketika seorang telah dapat lepas dari segelintir pertanyaan-pertanyaan diatas maka bisalah disebut sebagi guru yang baik secara akademik dan mental, sudah pantas untuk kembali mendidik anak-anak usia sekolah dasar yang akan menjadi penerus bangsa.

Tetapi apabila hal tersebut bertolak belakang bisa kia bayangkan bagaimana seorang yang sudah dari awal tidak menunjukkan guru yang baik akan mengajar anak-anak kita?
Guru mempunyai tanggung jawab yang sngat besar dan berat terutama guru sekolah dasar untuk melahirkan generasi-generasi yang baik. Tapi apa jadinya bila seorang guru itu tidak melewati proses yang baik? Anak-anak sekolah dasar yang tentunya telah ikut dalam alur yang sistemnya salah akan memilki kecenderungan melakukan hal yang sama pada jenjang-jenjang pendidikan selanjutnya, ketingkat sekolah menengah peryama dan sekolah menengah atas akan menambanh beban tersendiri yaitu tuntutan hasil yang baik dari pemerintah. Hal ini penulis yakini akan menimbulkan masalah yang akan semakin rumit, logikanya bila anak mempunyai minta dan disiplin belajar yang kurang kesekolah hanya sebagai rutinitas, kesekolah untuk ajang bergaul dan menonjolkan eksistensi diri dan sehari-hari hanya mampu menadaptkan nilai 6 maka bagaimana bisa hasil akhirnya bisa menjadi 9? Apakah dalam waktu 3 hari sampai satu minggu anak-anak yang prosesnya biasa-biasa saja bisa setara dengan anak yang sehari-hari unggul dalam proses akademik? Dan sperti penulis katakan ini akan menjadi suatu siklus yang akan berulang, lalu bagaimana kita bisa berharap penerus bagsa kita merupakan individu yang gemilang? Mereka dari produk sistem yang salah hanya akan menjadi output-output yang mentalnya sudah jatuh dan rusak. Maka marilah kita menjadi pembaharu, memutus siklus yang tidak benar itu mejadi guru yanbg unggul, bukankah tidak ada kata terlambat? Karena apabila sistem yang rusak itu dibiarkan penyakit-penyakit mental yang ada dipenjuru negeri kita Indonesia akan semakin kronis dan smakin rumit. Kita bisa menjadi guru yang baik yang berkualitas karena tentunya kita akan malu bila menyebut negar kita sendiri adalah negara yang memelihara budaya yang menghasilkan generasi yang tidak unggul secara pkiran dan mental. Sekali lagi penulis katakan Guru mempunyai peran yang sangat sentral dan vital bukan hanya sekedar pendidik tetapi juga menjadi pembaharu untuk kehidupan bangsa yang lebih baik dimasa depan.






















3 komentar:

  1. maka jadilah guru yang bisa mendidik penerus bangsa ;)

    BalasHapus
  2. ternyata menjadi guru yang benar-benar "GURU" itu susah ya

    BalasHapus
  3. pendidikan sejak dini memang sangat menentukan kelak menjadi apa anak tersebut

    BalasHapus